Pages

Sabtu, 29 Agustus 2020

Proses kelahiran bayi pertama (bagian 2)


Saya hampiri ia yang masih terlihat merintih sakit. Respon Tazkia atas kehadiran saya masih sangat minim. Saya dekati ia dan saya bersamai dia dalam suasana yang sulit itu.

Beberapa saat setelah saya sampai di kamar bersalin dan mendampinginya, saya diminta untuk keluar sebentar karena perawat akan mengecek seberapa lebar bukaan. Menunggu di luar, saya berharap proses bukaan dilancarkan agar ia tak terlalu lama merasakan sakit yang seorang calon Ayah tak akan pernah merasakannya langsung. Setelah perawat keluar, mereka mengabarkan bahwa bukaan sudah selebar 7 cm. Saat itu sekitar pukul 4. 

Saya masuk dan mengabarkan kepada Tazkia. Saya mendampinginya kembali sembar menunggu proses bukaan yang akan berkembang dengan sendirinya. Beberapa kali Tazkia mengeluhkan sakit, dan saya mencoba memijit punggung dan pinggangnya. Ternyata saya harus menerima kenyataan bahwa saya tak seahli perawat dalam memijit. Beberapa kali istri dikecewakan dan membandingkan pijitan saya dengan perawat sebelum saya datang. Baiklah saya harus mencoba lebih keras.

Jumat, 21 Agustus 2020

Proses kelahiran bayi pertama (bagian 1)


Kala itu, waktu berjalan begitu cepat.

Satu, dua, tiga hingga hampir 9 bulan tak terasa sudah berlalu, dan dalam beberapa hari Kami bersiap menyambut kehadiran sang buah hati kami yang pertama.

Sejak menikah 30 Desember 2018, kami akhirnya mendapatkan amanah dari Allah, yang menurut perhitungan dokter akan hadir pada tanggal 2 Maret 2020. Saat kami mendapatkan berita pertama kali bahwa Tazkia hamil, kami begitu gembira dan bersyukur. Dedek dihadirkan pada kami di saat usia pernikahan kami masih belum sampai setahun.

Dalam masa kebersamaan kami dengan dedek saat ia masih ada di dalam rahim ibunya, kami begitu merasakan kehadirannya ada di tengah-tengah kita. Apalagi ketika ia sudah bisa menendang-nendang perut ibunya dan beberapa kali nampak cegukan. Walaupun masih di dalam perut, kehadirannya begitu nyata dan membawa kebahagian yang luar biasa untuk kami. Setiap hari kami pastikan kami sudah ngobrol dengannya, dan membacakan ayat suci al-quran bersama-sama setiap setelah shubuh. Melihat ia beberapa kali menunjukkan responnya, saat kami ajak ngobrol dan melantunkan ayat-ayat-Nya, kami tak henti-hentinya antusias dan bahagia.

Kamis, 11 Juni 2020

Menjadi Ibu Baru


Sudah 3 bulan ini saya memiliki status baru, yaitu sebagai seorang ibu.
Bagaimana rasanya?
Lelah.
Harus mengganti diapers setiap 3 jam sekali, menyusui setiap 2-3 jam sekali, menenangkan saat rewel, menggendong & memangkunya hampir seharian, menahan kantuk saat malam hari karena harus menyusui dan mengganti diapers, belum lagi pekerjaan rumah tangga lainnya. MashaAllah.
Saya dan suami mengurus bayi kami sendiri. Tidak ada orang tua kami, tidak dititipkan ke day care. Saya dan suami pun saling berbagi tugas. Suami saya bertugas memandikan. Dan beberapa kali membantu saya dalam menyelesaikan tugas rumah tangga. Memasak, mencuci piring, menjemur pakaian dan lainnya.
Sejak bayi kami lahir hingga saat ini, suami saya bekerja dari rumah. Mulanya dengan alasan agar bisa menemani dan membantu saya selagi saya recovery selepas melahirkan. Kemudian berlanjut tetap di rumah karena kampus ditutup (lockdown karena ada beberapa students yg positif corona) dan menghimbau students nya agar belajar dari rumah saja.
Khawatir.

Senin, 09 Maret 2020

Selamat Datang di Dunia Anakku Sayang!



Sempat merasa sangat cemas karena sudah memasuki minggu ke 39 lebih tapi masih belum melahirkan. Pembukaan pun hanya bertambah satu cm dari minggu lalu. Keluarga dan teman dekat pun sudah bertanya kesekian kali. "Kapan lahir bayinya?" Yang sesungguhnya menambah rasa cemasku. 
Kamis, 27 Februari 2020. Hari itu seperti biasanya pemeriksaan mingguan ke dokter kandungan. Dan ternyata setelah dicek masih pembukaan dua. Padahal sudah berharap pembukaan sudah lebih banyak dari minggu lalu. Rasa mulas-mulas pun sudah ada sejak kemarin-kemarinnya. 

Jumat, 28 Februari 2020. Pukul 05.00 shubuh setelah aku menyelesaikan sholat shubuh, rasa mulas itu kembali datang. Kali ini berniat untuk mencatatnya supaya dapat dilihat apakah ada pola yang teratur. Karena dari kemarin rasanya malas mencatat. Rata-rata setiap 10 menit sekali selama kurang lebih 30 detik mulanya. Kemudian meningkat menjadi setiap 6 menit sekali selama kurang lebih 1 menit. Kontraksi nya pun terasa semakin sakit. Aku pun tak memasak hari itu. Akhirnya karena kontraksi terus menerus, aku dan suami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saja. Untuk memastikan apakah pembukaan sudah naik. Agak ragu sebenernya takut disuruh pulang kembali oleh pihak rumah sakit karena pembukaan belum bertambah. Tetapi karena rasa sakitnya tak tertahan lagi, akhirnya ke rumah sakit juga. Apapun yang terjadi. Suami langsung menghubungi rumah sakit dan oyasan untuk meminta tolong memesankan taksi. 

Rabu, 05 Februari 2020

Untukmu, cinta baru kami

Hidup harus bergerak

Karena
Masa suatu saat akan berganti
Yang lama digantikan yang baru
Yang baru pun akan lekang oleh waktu

Kini kehidupan kita telah beranjak lagi
Dari kesendirian hingga hadirnya engkau teman hidupku
Dari berdua hingga hadirnya melengkapi kebersamaan kami
Anak pertamaku

Saat-saat ini adalah yang kami nanti
Dari usaha, doa hingga jawaban
Semua terasa sangat cepat
Tak terasa kita sudah ada di tahap ini
Semakin matang
Semakin dewasa

Kamis, 30 Januari 2020

Menanti Kehadiranmu Dedek



Menanti 40 minggu lamanya bukanlah waktu yang sebentar. Bisa jadi tak terasa jika dinikmatinya. Alhamdulillah saat ini usia kehamilan ku sudah menginjak 35 minggu 4 hari. Kurang lebih 4 minggu lagi menuju hari perkiraan lahir itu. Aku ingin mengingat sejenak masa-masa selama 35 minggu kebelakang kemarin.

Kehadiran dedek bayi memang sangat dinanti-nanti oleh kami. Allah memberi amanah itu kira-kira 5 bulan setelah tanggal pernikahan kami. Setelah kami berikhtiar dan berdoa tanpa kenal letih. Begitu bahagianya aku dan suami saat itu. Bahkan aku tak menyangka saat dokter menyatakan aku positif hamil. 

Selasa, 31 Desember 2019

1st Year Anniversary: Yang aku suka dari istriku, biku, Tazkia

Dia manja,
Manjanya kadang udah kaya dedek.
Itu yang bikin kita bercandaan kaya anak-anak.


Dia penyayang,
sekali sayang, sayaaang banget.
Ga bisa lama2 jauhan sama suaminya.


Kerjaan rumah tangga jarang banget minta bantuan,
kecuali kalau udah bener2 kepepet.


Dia pinter masak.
Masakannya hampir selalu enak.


Dia bawel.
Suaminya kena bawelan kalo udah terlalu sering nglembur. Tapi aku yakin itu dia lakukan karena cinta.


Dia ibu yang baik buat anak kita nanti. Aku yakin.
Dia penyayang banget, walaupun kadang mungkin dalam beberapa hal dia ga sabaran.
Kalo ngomel pun, tetap itu masih dalam koridor sayang.


Senin, 30 September 2019

On our wedding day (1)


Bulan Juli tahun 2018 lalu, saya masih disibukkan dengan kegiatan perkuliahan dan riset. Namun siapa sangka, 5 bulan berselang, saya telah duduk di kursi pelaminan bersama seorang perempuan yang akan mendampingi sisa masa hidup saya.

Di hari itu, 30 Desember 2018, saya berikrar suci mengucap kalimat kabul menyambung akad dari Ayahnya dengan tangan yang saling berjabat. Itu menandai pertalian yang sangat kuat antara saya dengannya. Sebuah ikatan yang disebutkan dalam Al-qur'an sebagai "Mitsaqan Ghalizha", sebuah kata yang setara untuk menunjuk ikatan yang sangat kokoh. Bahkan di ayat qur'an ikatan itu disetarakan dengan ikatan perjuangan dakwah para nabi dan rasul.

Janji suci yang saya ikrarkan menandai dimulainya komitmen sakral yang bukan hanya antar manusia yang terlibat, tetapi juga Allah SWT. Sebuah janji menimbulkan konsekuensi lahir dan batin, dunia dan akhirat untuk menjalankan kewajiban saya sebagai suami dan memenuhi haknya sebagai istri.

Sungguh pertemuan ini sama sekali tak pernah saya duga sebelumnya. Seorang yang bahkan sebelumnya tak saya kenal sama sekali, kini akan menjadi pendampingi hidup saya. Proses demi proses saya jalani dengan cepat. Bak semuanya telah dimudahkan saja. Tahap demi tahap pun saya jalani. Hingga urusan-urusan yang tadinya saya pikir akan sulit, ternyata tidak. Seperti halnya saat harus bolak-balik Jepang-Indonesia untuk menjalani tunangan dan pernikahan. Itu semua saya jalani dengan baik dengan izin Allah, melalui jalan kemudahan yang dibentangkan oleh-Nya di depan saya. Hingga sejak saat itu, saya telah resmi menggandeng seorang anak perempuan dan membawanya terbang ke negeri Sakura.

Senin, 05 Agustus 2019

Kurma dan Seribu Istigfar! Alhamdulillah Allah Amanahkan untuk Kami Kehadirannya

5 Juli 2019

Hari ini merupakan kunjungan ketiga kalinya ke dokter kandungan di klinik koga. Yang pertama, saat aku dan suami berkonsultasi dengan dokter mengenai keinginan kami memiliki anak dan dengan kendala periode haidku yang tidak beraturan. Saat itu dokter menyarankan untuk membeli termometer BBT untuk mengukur suhu tubuh basalku setiap pagi sebelum bangun dari tempat tidur. Dokter pun memeriksa kondisi rahim dan hormon dariku. Minggu depannya kami diminta kembali lagi ke dokter. Pada kunjungan kedua, dokter memeriksa hasil grafik dari suhu basalku yang belum ada tanda-tanda ovulasi. Beliau pun menjelaskan hasil cek darah dan hormon dari pemeriksaan sebelumnya. Semuanya normal. Tetapi dokter bilang bahwa jika kedepannya didalam grafik tidak terjadi ovulasi, ada kemungkinan aku terkena PCOS. Aku dan suami sempat khawatir dan segera browsing di internet untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi mengenai PCOS ini.

Jumat, 21 Juni 2019

Sepi dan Sendiri


Hari ini usia pernikahan kami memasuki hampir 6 bulan (8 hari lagi). Dan sudah 3 bulan lebih aku tinggal di Sendai bersama suami setelah sebelumnya aku harus pulang ke Indonesia karena permasalahan visa dan CoE. 3 bulan terakhir ini aku melalui hari-hari yang bisa dibilang berat. Beberapa kali aku merasa putus asa. Sehari-hari di rumah lebih banyak waktu sendiri karena suami harus pergi ke kampus. Di rumah yang sepi. Tak ada teman bicara dan tak ada aktivitas yang signifikan membuat aku melupakan jikalau aku sedang sendiri. Kegiatanku hanya memasak, mencuci piring, bersih-bersih rumah dan sebagainya. Kegiatan bertemu dengan orang banyak (orang-orang Indonesia yang tinggal di Sendai) pada saat weekend dan itupun jika ada agenda acara pertemuan. Acara yang diisi dengan sekedar mengobrol-ngobrol santai dan makan bersama. Di sini kebanyakan orang Indonesia nya berstatus sebagai mahasiswa. Dan hanya hitungan jari saja yang berstatus sebagai ibu rumah tangga sepertiku. Sesekali kami, ibu-ibu yang berkegiatan di rumah saja, mengadakan kegiatan masak bersama yang dapat mengisi kekosongan aktivitas keseharian kami. Tapi hampir semua ibu-ibu rumah tangga di sini sudah memiliki anak. Setidaknya ada yang menemani mereka. Sedangkan aku masih sendiri. 

Rabu, 27 Maret 2019

Being A New Wife in New Country, Japan

15 Januari 2019

Hari ini adalah hari pertama aku menginjakkan kaki di Jepang. Aku akan tinggal di sini untuk waktu yang sangat lama bersama suami hingga suami menyelesaikan studi S3nya. Jauh sebelum aku menikah dengannya, aku memiliki impian. Aku menginginkan agar aku dapat tinggal di negara orang bersama dengan suami dan anak-anakku. Membayangkan betapa indah dan bahagia dapat tinggal di negara maju, membesarkan anak dengan berbagai macam fasilitas yang terjamin dan menaruh harapan besar agar anak dapat berkembang jauh lebih pesat dibanding jika dibesarkan di Indonesia. Aku tak menyangka jika impianku benar dikabulkan Allah. Aku menikah dengan orang yang sedang studi master di Jepang.

Kembali Pulang!

Tinggal beberapa hari lagi menuju hari kepulanganku kembali ke Sendai, Jepang. Hanya tinggal menunggu visa yang dijanjikan selesai besok. Sudah hampir satu bulan aku tidak bersama dengan suamiku tercinta. Di awal-awal waktu aku berpisah dengannya sunggu sangat berat. Aku selalu terbayang akan kehadirannya bahkan tak segan air matapun jatuh membasahi pipiku. Komunikasi kami tak pernah putus melalui chat dan video call. Tetapi tetap saja terasa berbeda tanpa kehadirannya. Aku harus mencoba terbiasa, tetap menjalani aktivitas agar kesedihan ini tak begitu larut hingga aku bertemu lagi dengannya.

18 Februari 2019
Aku kembali masuk kantor. Padahal 11 Januari kemarin aku sudah pamit pada teman-teman kantorku dan mereka pun sudah mengadakan farewell untukku. Rencana awal saat aku akan tinggal di Jepang, aku akan bekerja remote dari tanggal 14 Januari hingga aku resign tanggal 28 Februari. Ya bekerja remote di Jepang. Karena aku akan pergi hingga hari aku resign, teman-teman kantorku mengadakan farewell tanggal 11 Januarinya. Pun aku sudah pamit ke teman-teman ku yang lain.

Rabu, 20 Maret 2019

Surat itu Tak Kunjung Datang

Dokumen sakti yang kami tunggu selama hampir 3 minggu terakhir ini akhirnya tak datang hingga hari ini tiba, 14 Februari 2019. Dokumen yang dengannya tazkia istri saya bisa tinggal di sendai bersama saya belum juga dikeluarkan oleh pihak imigrasi di Sendai setelah kami mengajukannya 25 Januari lalu.

Hari ini pilihan telah kami ambil. Kami harus berbesar hati dan bersyukur untuk berpisah selama beberapa minggu kedepan hingga dokumen Certificate of Eligibility (CoE) itu rampung. Setelah penantian yang cukup mendebarkan berhari-hari kemarin, akhirnya hari ini istri harus pulang ke indonesia terlebih dahulu karena izin tinggal visa kunjungannya berakhir.

Cerita ini diawali oleh keputusan kami untuk langsung berangkat bersama setelah dua minggu pernikahan di akhir desember 2018 lalu. Saat itu ada beberapa pilihan untuk membawa istri saya untuk tinggal bersama di jepang. Pilihan pertama adalah kami berangkat bersama dan yang kedua adalah istri menyusul setelah saya terlebih dahulu kembali ke jepang. Pilihan untuk berangkat bersama atau tidaknya ke jepang, saat itu sangat mempengaruhi jalur legal mana yang kita tempuh. Sebagai informasi, kita bisa mengundang keluarga atau kerabat untuk berkunjung atau tinggal di jepang dalam jangka waktu tertentu atas jaminan kita yang sudah tinggal di Jepang. Singkatnya ada dua cara, pertama mengundang mereka dengan menggunakan visa kunjungan "Temporary Visitor” (untuk jangka waktu pendek < 3 bulan), dan kedua mengajukan permohonan izin tinggal dalam jangka waktu yang lebih lama (>3 bulan) melalui dokumen CoE. Untuk visa kunjungan kita bisa mengajukannya relatif mudah di kantor kedubes, konsulat atau Visa Consultant VSF Global di Jakarta, sedangkan untuk izin tinggal dengan CoE dalam hal ini dengan status "dependent" kita perlu mengajukan aplikasi terlebih dahulu, kemudian menggunakan CoE tersebut untuk mengajukan Visa khusus (jika ingin lebih tahu apa itu CoE "dependent" bisa dilihat di sini). Untuk CoE ini normalnya pengajuannya harus dilakukan di kantor Imigrasi pusat Jepang atau cabang daerah, sehingga CoE harus dikirim ke Indonesia terlebih dahulu untuk kemudian bisa digunakan. Pengajuan CoE ini memakan beberapa waktu, tertulis di website itu membutuhkan waktu 1 hingga 3 bulan.  Info lebih lanjut tentang dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan CoE Jepang bisa di lihat di sini.

Rabu, 20 Februari 2019

Drama Terberat : Terpisah Jarak Sementara Waktu

13 Februari 2019

COE yang menjadi syarat administratif bagi warga asing untuk tinggal menetap di Jepang dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan, masih belum di tangan. Sementara visa wisata ku sudah habis masa berlakunya esok hari. Sehingga aku harus bersiap-siap pulang malam ini meninggalkan kota Sendai. Kota yang selama 1 bulan ini aku tempati bersama suamiku tersayang. Pun aku harus berpisah bersama suamiku untuk sementara waktu. Sejak aku tahu bahwa kejadian ini akan terjadi padaku, aku tak dapat menahan tangis. Dan sore ini pun tangisku kembali pecah. Menangis dalam pelukan suamiku.

Usia pernikahan kami baru menginjak 1.5 bulan. Kami selalu bersama-sama hingga hari ini. Tetapi untuk beberapa hari kedepan, aku dan suami harus terpisah. Aku di Bekasi dan suami di Sendai, Jepang. Semula aku tak dapat menerima kenyataan pahit yang akan terjadi padaku. Aku kesal. Tangis tiada hentinya menolak apa yang akan aku lalui.

Minggu, 25 November 2018

How we plan our wedding: decoration

Dalam mempersiapkan pernikahan, ada beberapa orang lebih ingin menyiapkan acara pernikahannya sendiri. Alasannya bisa jadi karena pertimbanganann budget, keinginan pada spesifikasi tertentu yang tidak ada di vendor, atau lebih untuk memanfaatkan skill dan pengalaman sendiri yang bisa dimanfaatkan. Atau bisa juga gabungan dari semua alasan yang intinya adalah untuk menekan efisiensi dari sebuah persiapan pernikahan.

Sumber: pinterest.com

Rabu, 17 Oktober 2018

Finally "officially" engaged

Di malam menjelang acara lamaran, saat kami hendak tidur, kakek memberi banyak wejangan kepada saya. Saat itu, saya, ibu, bapak dan kakek, tidur di satu kamar yang sama. Saya ingin segera beristirahat agar di acara besoknya bisa lebih segar, tapi tiba-tiba kakek memantik obrolan yang nampaknya cukup serius. Itu menjadi sesi ngobrol terlama dan terdekat selama hidup saya bersama kakek. Saya tak pernah melihat kakek seantusias itu sebelumnya. Ia begitu bersemangat dalam bercerita. Hingga tak sadar kami telah menghabiskan sekian jam hingga cukup larut malam. Beliau memberi wejangan dan masukan kepada saya khususnya untuk teknis penyampaian lamaran besok. Beliau nampaknya memang sudah punya template apa yang harus disampaikan oleh seorang lelaki yang hendak melamar perempuan. Kisi-kisi yang disampaikan beliau cukup jelas dan sederhana. Saya berusaha mengingatnya. Beliau sangat mewanti-wanti jangan sampai ada poin yang tertinggal. Selain tentang wejangan-wejangan, beliau juga menceritakan tentang kepercayaan beliau terhadap pemilihan tanggal pernikahan, dimana sebelumnya sempat ada perbedaan pendapat di antara kami. Saya dan ibu tetap pada posisi bahwa semua tanggal baik. Tawaran tanggal dari keluarga Tazkia 29 Desember 2018 kami kira tidak masalah. Hanya saja saat itu kakek sangat menentang tanggal tersebut, karena suatu hal tertentu. Malam itu beliau menceritakan apa kenapa beliau tidak setuju dengan tanggal tersebut.


Selasa, 16 Oktober 2018

Melamar

Jumat, 5 Oktober 2018 saya telah menginjakkan kaki di Jakarta setelah sebelumnya mantap dengan keputusan untuk pulang dan melamar Tazkia. Hari pertama kedatangan, saya langsung menuju ke rumahnya dan menemui kedua orang tuanya untuk pertama kali sejak kami saling berkenalan beberapa minggu sebelumnya melalui skype. Dari obrolan singkat sore itu, sedikit demi sedikit kedekatan komunikasi antara kami mulai terbangun. Bagaimana tidak, sebelumnya kami hanya bisa berkomunikasi melalui whatsapp dan email, karena memang kami berkomitmen berusaha untuk menjaga interaksi satu sama lain. Itupun dengan pengawasan dari keluarga dan kedua orangtuanya.



Dua hari berikutnya setelah kedatangan, telah dijadwalkan acara lamaran atau khitbah antara kami dan kedua pihak keluarga. H-1 sebelum lamaran, Ibu, Bapak, dan kakek tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan darat menggunakan kereta api dari Ngawi Jawa Timur selama kurang lebih 11 jam. Disaat itu pula saya baru bertemu mereka, setelah sekitar 1 tahun yang lalu. Momen lamaran itulah yang membuat saya berkesempatan pulang untuk bertemu keluarga Ibu Bapak dan keluarga. Sungguh bahagia tentunya bisa bertemu mereka lagi. Pada petang hari, saya dan om yang kebetulan berdomisili di Jakarta menjemput mereka di stasiun Jatinegara dan melanjutkan perjalanan untuk numpang menginap sekaligus di rumah beliau.

Senin, 15 Oktober 2018

One Step Closer: Engagement


24 Agustus 2018

Hari itu dia mengabarkan bahwa senseinya (sensei=dosen) mengizinkannya untuk pulang ke Indonesia oktober mendatang. Ya karena masih terikat sebagai mahasiswa master di Jepang, agak sulit untuk izin pulang untuk waktu yang lama kecuali dengan alasan yang kuat. Kemudian dia juga mengabarkan dengan bahagia jika dia langsung membeli tiket pesawat, untuk benar-benar meyakinkanku bahwa janjinya untuk pulang memang benar. Tentunya mengabarkannya melalui grup whatsapp yang berisi aku, dia, dan Fulanah.

Beberapa persiapan menjelang lamaran mulai aku list satu per satu. Waktu itu aku sama sekali tak ada bayangan rangkaian acara apa saja yang ada di dalam acara lamaran. Kemudian aku diskusikan dengannya di grup whatsapp itu. Dia memberikan beberapa poin sususan acara pada umumnya, kemudian aku yang membuat run down yang lebih detailnya. Tetapi tetap terasa kurang jika harus dituliskan secara rinci. Beberapa video di youtube mengenai lamaran pun aku tonton untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat run down. 



Kamis, 11 Oktober 2018

Bertemu (2)

Setelah diantar Gojek dan hanya bermodal tanya orang-orang sekitar komplek, akhirnya saya berhasil menemukan rumahnya. Saya telah berada tepat di depan pagar rumahnya.

Seharusnya saya memberi kabar terlebih dahulu kepada Ayah dan Ibunya, bahwa saya telah sampai. Namun apa daya, sejak di bis saya tak bisa mendapatkan koneksi internet. Kedatangan saya waktu itu bisa saja cukup mendadak.


Saya kentuk pagar dan ucapkan salam. Terdengar sayup jawaban dari dalam rumah. Beberapa saat seorang pria paruh baya keluar dari pintu rumah. Ya, beliau adalah ayah darinya. Tak sedikitpun berbeda sejak kami bercakap di video call sekitar sebulan sebelumnya. Sayapun masuk dengan membawa tentengan tas carrier dan tas selempang kecil.

Kami memulai obrolan ringan. Setelah beberapa saat, ibunya datang dengan membawa makanan di loyang. Makanan yang telah dijanjikan sebelumnya saat kami berbincang via Whatsapp. Beliau sangat mempersiapkan hidangan itu. Soto Padang! Terimakasih umi! Saya yang cukup kelaparan saat itu segera menyantapnya dengan lahap. Kami sambil melanjutkan mengobrol, hingga semangkuk soto di tangan ludes.

Rabu, 10 Oktober 2018

Bertemu (1)

Malam itu saya berangkat dari sendai menuju bandara Haneda. Penerbangan saya terjadwal pada pukul 11 malam dan sampai di Jakarta pada pukul 10 pagi keesokan harinya. Itu merupakan penerbangan saya pertama kali ke Indonesia, setelah tinggal kurang lebih setahun di Jepang. Jalan Allah melalui proses ta'aruf inilah yang mengantar saya pada momen itu. Ya, saya pulang.


Perjalanan malam itu saya lalui dengan beristirahat pulas. Walaupun sempat mendengar instruksi Pilot untuk mengenakan sabuk pengaman saat pesawat melalui Typon di atas langit Okinawa, masuk kedalam mimpi saya. Alhamdulillah, saya sampai di Kuala lumpur dan kemudian lanjut menuju bandara Soekarno Hatta dan sampai di sana dengan selamat.