Pages

Rabu, 20 Februari 2019

Drama Terberat : Terpisah Jarak Sementara Waktu

13 Februari 2019

COE yang menjadi syarat administratif bagi warga asing untuk tinggal menetap di Jepang dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan, masih belum di tangan. Sementara visa wisata ku sudah habis masa berlakunya esok hari. Sehingga aku harus bersiap-siap pulang malam ini meninggalkan kota Sendai. Kota yang selama 1 bulan ini aku tempati bersama suamiku tersayang. Pun aku harus berpisah bersama suamiku untuk sementara waktu. Sejak aku tahu bahwa kejadian ini akan terjadi padaku, aku tak dapat menahan tangis. Dan sore ini pun tangisku kembali pecah. Menangis dalam pelukan suamiku.

Usia pernikahan kami baru menginjak 1.5 bulan. Kami selalu bersama-sama hingga hari ini. Tetapi untuk beberapa hari kedepan, aku dan suami harus terpisah. Aku di Bekasi dan suami di Sendai, Jepang. Semula aku tak dapat menerima kenyataan pahit yang akan terjadi padaku. Aku kesal. Tangis tiada hentinya menolak apa yang akan aku lalui.

Minggu, 25 November 2018

How we plan our wedding: decoration

Dalam mempersiapkan pernikahan, ada beberapa orang lebih ingin menyiapkan acara pernikahannya sendiri. Alasannya bisa jadi karena pertimbanganann budget, keinginan pada spesifikasi tertentu yang tidak ada di vendor, atau lebih untuk memanfaatkan skill dan pengalaman sendiri yang bisa dimanfaatkan. Atau bisa juga gabungan dari semua alasan yang intinya adalah untuk menekan efisiensi dari sebuah persiapan pernikahan.

Sumber: pinterest.com

Rabu, 17 Oktober 2018

Finally "officially" engaged

Di malam menjelang acara lamaran, saat kami hendak tidur, kakek memberi banyak wejangan kepada saya. Saat itu, saya, ibu, bapak dan kakek, tidur di satu kamar yang sama. Saya ingin segera beristirahat agar di acara besoknya bisa lebih segar, tapi tiba-tiba kakek memantik obrolan yang nampaknya cukup serius. Itu menjadi sesi ngobrol terlama dan terdekat selama hidup saya bersama kakek. Saya tak pernah melihat kakek seantusias itu sebelumnya. Ia begitu bersemangat dalam bercerita. Hingga tak sadar kami telah menghabiskan sekian jam hingga cukup larut malam. Beliau memberi wejangan dan masukan kepada saya khususnya untuk teknis penyampaian lamaran besok. Beliau nampaknya memang sudah punya template apa yang harus disampaikan oleh seorang lelaki yang hendak melamar perempuan. Kisi-kisi yang disampaikan beliau cukup jelas dan sederhana. Saya berusaha mengingatnya. Beliau sangat mewanti-wanti jangan sampai ada poin yang tertinggal. Selain tentang wejangan-wejangan, beliau juga menceritakan tentang kepercayaan beliau terhadap pemilihan tanggal pernikahan, dimana sebelumnya sempat ada perbedaan pendapat di antara kami. Saya dan ibu tetap pada posisi bahwa semua tanggal baik. Tawaran tanggal dari keluarga Tazkia 29 Desember 2018 kami kira tidak masalah. Hanya saja saat itu kakek sangat menentang tanggal tersebut, karena suatu hal tertentu. Malam itu beliau menceritakan apa kenapa beliau tidak setuju dengan tanggal tersebut.


Selasa, 16 Oktober 2018

Melamar

Jumat, 5 Oktober 2018 saya telah menginjakkan kaki di Jakarta setelah sebelumnya mantap dengan keputusan untuk pulang dan melamar Tazkia. Hari pertama kedatangan, saya langsung menuju ke rumahnya dan menemui kedua orang tuanya untuk pertama kali sejak kami saling berkenalan beberapa minggu sebelumnya melalui skype. Dari obrolan singkat sore itu, sedikit demi sedikit kedekatan komunikasi antara kami mulai terbangun. Bagaimana tidak, sebelumnya kami hanya bisa berkomunikasi melalui whatsapp dan email, karena memang kami berkomitmen berusaha untuk menjaga interaksi satu sama lain. Itupun dengan pengawasan dari keluarga dan kedua orangtuanya.



Dua hari berikutnya setelah kedatangan, telah dijadwalkan acara lamaran atau khitbah antara kami dan kedua pihak keluarga. H-1 sebelum lamaran, Ibu, Bapak, dan kakek tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan darat menggunakan kereta api dari Ngawi Jawa Timur selama kurang lebih 11 jam. Disaat itu pula saya baru bertemu mereka, setelah sekitar 1 tahun yang lalu. Momen lamaran itulah yang membuat saya berkesempatan pulang untuk bertemu keluarga Ibu Bapak dan keluarga. Sungguh bahagia tentunya bisa bertemu mereka lagi. Pada petang hari, saya dan om yang kebetulan berdomisili di Jakarta menjemput mereka di stasiun Jatinegara dan melanjutkan perjalanan untuk numpang menginap sekaligus di rumah beliau.

Senin, 15 Oktober 2018

One Step Closer: Engagement


24 Agustus 2018

Hari itu dia mengabarkan bahwa senseinya (sensei=dosen) mengizinkannya untuk pulang ke Indonesia oktober mendatang. Ya karena masih terikat sebagai mahasiswa master di Jepang, agak sulit untuk izin pulang untuk waktu yang lama kecuali dengan alasan yang kuat. Kemudian dia juga mengabarkan dengan bahagia jika dia langsung membeli tiket pesawat, untuk benar-benar meyakinkanku bahwa janjinya untuk pulang memang benar. Tentunya mengabarkannya melalui grup whatsapp yang berisi aku, dia, dan Fulanah.

Beberapa persiapan menjelang lamaran mulai aku list satu per satu. Waktu itu aku sama sekali tak ada bayangan rangkaian acara apa saja yang ada di dalam acara lamaran. Kemudian aku diskusikan dengannya di grup whatsapp itu. Dia memberikan beberapa poin sususan acara pada umumnya, kemudian aku yang membuat run down yang lebih detailnya. Tetapi tetap terasa kurang jika harus dituliskan secara rinci. Beberapa video di youtube mengenai lamaran pun aku tonton untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat run down. 



Kamis, 11 Oktober 2018

Bertemu (2)

Setelah diantar Gojek dan hanya bermodal tanya orang-orang sekitar komplek, akhirnya saya berhasil menemukan rumahnya. Saya telah berada tepat di depan pagar rumahnya.

Seharusnya saya memberi kabar terlebih dahulu kepada Ayah dan Ibunya, bahwa saya telah sampai. Namun apa daya, sejak di bis saya tak bisa mendapatkan koneksi internet. Kedatangan saya waktu itu bisa saja cukup mendadak.


Saya kentuk pagar dan ucapkan salam. Terdengar sayup jawaban dari dalam rumah. Beberapa saat seorang pria paruh baya keluar dari pintu rumah. Ya, beliau adalah ayah darinya. Tak sedikitpun berbeda sejak kami bercakap di video call sekitar sebulan sebelumnya. Sayapun masuk dengan membawa tentengan tas carrier dan tas selempang kecil.

Kami memulai obrolan ringan. Setelah beberapa saat, ibunya datang dengan membawa makanan di loyang. Makanan yang telah dijanjikan sebelumnya saat kami berbincang via Whatsapp. Beliau sangat mempersiapkan hidangan itu. Soto Padang! Terimakasih umi! Saya yang cukup kelaparan saat itu segera menyantapnya dengan lahap. Kami sambil melanjutkan mengobrol, hingga semangkuk soto di tangan ludes.

Rabu, 10 Oktober 2018

Bertemu (1)

Malam itu saya berangkat dari sendai menuju bandara Haneda. Penerbangan saya terjadwal pada pukul 11 malam dan sampai di Jakarta pada pukul 10 pagi keesokan harinya. Itu merupakan penerbangan saya pertama kali ke Indonesia, setelah tinggal kurang lebih setahun di Jepang. Jalan Allah melalui proses ta'aruf inilah yang mengantar saya pada momen itu. Ya, saya pulang.


Perjalanan malam itu saya lalui dengan beristirahat pulas. Walaupun sempat mendengar instruksi Pilot untuk mengenakan sabuk pengaman saat pesawat melalui Typon di atas langit Okinawa, masuk kedalam mimpi saya. Alhamdulillah, saya sampai di Kuala lumpur dan kemudian lanjut menuju bandara Soekarno Hatta dan sampai di sana dengan selamat.