Aku pernah membaca sebuah tulisan di blog orang yang bercerita tentang kisah orang sholeh zaman dulu yang menikah bukan atas dasar cinta. Tetapi karena Allah. Dan cinta itu mulai tumbuh seiring dengan berjalannya waktu setelah pernikahan. Masha Allah!
Setelah berminggu minggu berlalu sejak bertukar CV aku penasaran akan satu hal. Aku penasaran dan menantikan kehadiran cinta itu. Apakah memang benar takdirnya cinta datang setelah pernikahan? Karena selama ini aku menerima semua proses ini hanya berdasar pada rasa yakin saja. Namun tiba-tiba rasa gila ketakutan membayang-bayangi ku. Bagaimana mungkin akan menikah tapi tidak cinta? Maksudku mungkin belum. Aku kembali bercerita pada Fulanah. Pun diiringi tangis yang tak tertahan karena emosi yang meluap-luap. Rasanya proses ini sangat penuh dengan drama. Aku kembali menegaskan pada Fulanah bahwa aku termasuk orang yang introvert. Susah cari teman nyaman. Maksudku perlu 'waktu yang cukup lama' bagiku agar kenyamanan itu hadir. Teman saja susah. Bagaimana mungkin aku bisa bersama dengan seseorang yang baru aku kenal di sisa hidupku? Fulanah memberikan beberapa penawaran untuk dapat mewadahi agar aku dapat mengenal dan merasa nyaman dengannya. Hingga jatuhlah pada pilihan dibuatkannya grup whatsapp antara aku dan dia. Juga Fulanah. Kami membicarakan banyak hal. Dari yang ringan hingga agak serius. Bercerita tentang keseharianku dan kesehariannya, rencana pernikahan yang seperti apa, rencana masa depanku, dan lain-lain. Namun tetap aku masih belum mendapati kehadiran cinta itu. Aku masih menganggapnya sebagai teman saja.





