Pages

Kamis, 11 Juni 2020

Menjadi Ibu Baru


Sudah 3 bulan ini saya memiliki status baru, yaitu sebagai seorang ibu.
Bagaimana rasanya?
Lelah.
Harus mengganti diapers setiap 3 jam sekali, menyusui setiap 2-3 jam sekali, menenangkan saat rewel, menggendong & memangkunya hampir seharian, menahan kantuk saat malam hari karena harus menyusui dan mengganti diapers, belum lagi pekerjaan rumah tangga lainnya. MashaAllah.
Saya dan suami mengurus bayi kami sendiri. Tidak ada orang tua kami, tidak dititipkan ke day care. Saya dan suami pun saling berbagi tugas. Suami saya bertugas memandikan. Dan beberapa kali membantu saya dalam menyelesaikan tugas rumah tangga. Memasak, mencuci piring, menjemur pakaian dan lainnya.
Sejak bayi kami lahir hingga saat ini, suami saya bekerja dari rumah. Mulanya dengan alasan agar bisa menemani dan membantu saya selagi saya recovery selepas melahirkan. Kemudian berlanjut tetap di rumah karena kampus ditutup (lockdown karena ada beberapa students yg positif corona) dan menghimbau students nya agar belajar dari rumah saja.
Khawatir.

Senin, 09 Maret 2020

Selamat Datang di Dunia Anakku Sayang!



Sempat merasa sangat cemas karena sudah memasuki minggu ke 39 lebih tapi masih belum melahirkan. Pembukaan pun hanya bertambah satu cm dari minggu lalu. Keluarga dan teman dekat pun sudah bertanya kesekian kali. "Kapan lahir bayinya?" Yang sesungguhnya menambah rasa cemasku. 
Kamis, 27 Februari 2020. Hari itu seperti biasanya pemeriksaan mingguan ke dokter kandungan. Dan ternyata setelah dicek masih pembukaan dua. Padahal sudah berharap pembukaan sudah lebih banyak dari minggu lalu. Rasa mulas-mulas pun sudah ada sejak kemarin-kemarinnya. 

Jumat, 28 Februari 2020. Pukul 05.00 shubuh setelah aku menyelesaikan sholat shubuh, rasa mulas itu kembali datang. Kali ini berniat untuk mencatatnya supaya dapat dilihat apakah ada pola yang teratur. Karena dari kemarin rasanya malas mencatat. Rata-rata setiap 10 menit sekali selama kurang lebih 30 detik mulanya. Kemudian meningkat menjadi setiap 6 menit sekali selama kurang lebih 1 menit. Kontraksi nya pun terasa semakin sakit. Aku pun tak memasak hari itu. Akhirnya karena kontraksi terus menerus, aku dan suami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saja. Untuk memastikan apakah pembukaan sudah naik. Agak ragu sebenernya takut disuruh pulang kembali oleh pihak rumah sakit karena pembukaan belum bertambah. Tetapi karena rasa sakitnya tak tertahan lagi, akhirnya ke rumah sakit juga. Apapun yang terjadi. Suami langsung menghubungi rumah sakit dan oyasan untuk meminta tolong memesankan taksi. 

Rabu, 05 Februari 2020

Untukmu, cinta baru kami

Hidup harus bergerak

Karena
Masa suatu saat akan berganti
Yang lama digantikan yang baru
Yang baru pun akan lekang oleh waktu

Kini kehidupan kita telah beranjak lagi
Dari kesendirian hingga hadirnya engkau teman hidupku
Dari berdua hingga hadirnya melengkapi kebersamaan kami
Anak pertamaku

Saat-saat ini adalah yang kami nanti
Dari usaha, doa hingga jawaban
Semua terasa sangat cepat
Tak terasa kita sudah ada di tahap ini
Semakin matang
Semakin dewasa

Kamis, 30 Januari 2020

Menanti Kehadiranmu Dedek



Menanti 40 minggu lamanya bukanlah waktu yang sebentar. Bisa jadi tak terasa jika dinikmatinya. Alhamdulillah saat ini usia kehamilan ku sudah menginjak 35 minggu 4 hari. Kurang lebih 4 minggu lagi menuju hari perkiraan lahir itu. Aku ingin mengingat sejenak masa-masa selama 35 minggu kebelakang kemarin.

Kehadiran dedek bayi memang sangat dinanti-nanti oleh kami. Allah memberi amanah itu kira-kira 5 bulan setelah tanggal pernikahan kami. Setelah kami berikhtiar dan berdoa tanpa kenal letih. Begitu bahagianya aku dan suami saat itu. Bahkan aku tak menyangka saat dokter menyatakan aku positif hamil. 

Selasa, 31 Desember 2019

1st Year Anniversary: Yang aku suka dari istriku, biku, Tazkia

Dia manja,
Manjanya kadang udah kaya dedek.
Itu yang bikin kita bercandaan kaya anak-anak.


Dia penyayang,
sekali sayang, sayaaang banget.
Ga bisa lama2 jauhan sama suaminya.


Kerjaan rumah tangga jarang banget minta bantuan,
kecuali kalau udah bener2 kepepet.


Dia pinter masak.
Masakannya hampir selalu enak.


Dia bawel.
Suaminya kena bawelan kalo udah terlalu sering nglembur. Tapi aku yakin itu dia lakukan karena cinta.


Dia ibu yang baik buat anak kita nanti. Aku yakin.
Dia penyayang banget, walaupun kadang mungkin dalam beberapa hal dia ga sabaran.
Kalo ngomel pun, tetap itu masih dalam koridor sayang.


Senin, 30 September 2019

On our wedding day (1)


Bulan Juli tahun 2018 lalu, saya masih disibukkan dengan kegiatan perkuliahan dan riset. Namun siapa sangka, 5 bulan berselang, saya telah duduk di kursi pelaminan bersama seorang perempuan yang akan mendampingi sisa masa hidup saya.

Di hari itu, 30 Desember 2018, saya berikrar suci mengucap kalimat kabul menyambung akad dari Ayahnya dengan tangan yang saling berjabat. Itu menandai pertalian yang sangat kuat antara saya dengannya. Sebuah ikatan yang disebutkan dalam Al-qur'an sebagai "Mitsaqan Ghalizha", sebuah kata yang setara untuk menunjuk ikatan yang sangat kokoh. Bahkan di ayat qur'an ikatan itu disetarakan dengan ikatan perjuangan dakwah para nabi dan rasul.

Janji suci yang saya ikrarkan menandai dimulainya komitmen sakral yang bukan hanya antar manusia yang terlibat, tetapi juga Allah SWT. Sebuah janji menimbulkan konsekuensi lahir dan batin, dunia dan akhirat untuk menjalankan kewajiban saya sebagai suami dan memenuhi haknya sebagai istri.

Sungguh pertemuan ini sama sekali tak pernah saya duga sebelumnya. Seorang yang bahkan sebelumnya tak saya kenal sama sekali, kini akan menjadi pendampingi hidup saya. Proses demi proses saya jalani dengan cepat. Bak semuanya telah dimudahkan saja. Tahap demi tahap pun saya jalani. Hingga urusan-urusan yang tadinya saya pikir akan sulit, ternyata tidak. Seperti halnya saat harus bolak-balik Jepang-Indonesia untuk menjalani tunangan dan pernikahan. Itu semua saya jalani dengan baik dengan izin Allah, melalui jalan kemudahan yang dibentangkan oleh-Nya di depan saya. Hingga sejak saat itu, saya telah resmi menggandeng seorang anak perempuan dan membawanya terbang ke negeri Sakura.

Senin, 05 Agustus 2019

Kurma dan Seribu Istigfar! Alhamdulillah Allah Amanahkan untuk Kami Kehadirannya

5 Juli 2019

Hari ini merupakan kunjungan ketiga kalinya ke dokter kandungan di klinik koga. Yang pertama, saat aku dan suami berkonsultasi dengan dokter mengenai keinginan kami memiliki anak dan dengan kendala periode haidku yang tidak beraturan. Saat itu dokter menyarankan untuk membeli termometer BBT untuk mengukur suhu tubuh basalku setiap pagi sebelum bangun dari tempat tidur. Dokter pun memeriksa kondisi rahim dan hormon dariku. Minggu depannya kami diminta kembali lagi ke dokter. Pada kunjungan kedua, dokter memeriksa hasil grafik dari suhu basalku yang belum ada tanda-tanda ovulasi. Beliau pun menjelaskan hasil cek darah dan hormon dari pemeriksaan sebelumnya. Semuanya normal. Tetapi dokter bilang bahwa jika kedepannya didalam grafik tidak terjadi ovulasi, ada kemungkinan aku terkena PCOS. Aku dan suami sempat khawatir dan segera browsing di internet untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi mengenai PCOS ini.